Sabtu, 02 Mei 2015

Jejas Sel

Sel merupakan partisipan aktif di lingkungannya, yg secara tetap menyesuaikan struktur & fungsinya untuk mengakomodasi tuntutan perubahan dan stres ekstrasel. Semua bentuk jejas dimulai dengan perubahan molekul atau sturktur sel. Dalam keadaan normal, sel berada dalam “keadaan” homeostasis “mantap”. Sel bereaksi terhadap pengaruh yang merugikan dengan cara beradaptasi, mempertahankan jejas tidak menetap, atau mengalami jejas menetap dan mati.

Adaptasi  sel terjadi apabila stres fisiologik berlebihan atau suatu rangsangan yang patologik menyebabkan terjadinya keadaan baru yang berubah yang mempertahankan kelangsungan hidup sel. Contohnya ialah hipertropi (pertambahan massa sel) atau atrofi (penyusutan massa sel). Jejas sel yang reversibel menyatakan perubahan patologikyang dapat kembali. Bila rangsangan dihilangkan atau penyebab jejas lemah. Jejas yang ireversibel merupakan perubahan patologik yang mentap dan menyebabkan kematian sel.
          Terdapat dua pola morfologik kematian sel, yaitu nekrosis  dan apoptosis. Nekrosis adalah bentuk yang lebih umum setelah rangsang eksogen dan berwujud sebagai pembengkakan, denaturasi dan koagulasi protein, pecahnya organel sel, dan robeknya sel. Apoptosis ditandai dengan pemadatan kromatin dan fragmentasi, terjadi sendiri atau dalam kelompok kecil sel, dan berakibat dihilangkannya sel yang tidak dikehendaki selama embryogenesis dan dalam berbagai keadaan fisiologik dan patologik. Adapun penyebab terjadinya jejas :1.       Deprivasi oksigen, hipoksia (pengurangan oksigen) terjadi sebagai akibat iskemia (kehilangan pasokan darah), oksigenisasi tidak mencukupi (misalnya, kegagalan jantung paru), atau hilangnya kapasitas pembawa oksigen darah (misalnya, anemia, keracunan karbon monooksida). Untuk menilai efek hipoksia, pada mitokondria terjadi oksidasi asam lemak yg melepaskan energi. Energi yg dilepaskan digunakan untuk pembentukan ATP  “cans of energy”. ATP yg dihasilkan dikirim oleh mitokhondria ke berbagai organel sel untuk menggerakkan berbagai proses sel yg memerlukan energi seperti pergerakan, sekresi, memompa sodium, kalsium & air keluar sel. Energi yg tersimpan dlm ATP dilepaskan dg memecahnya kembali à ADP + P. Penghantaran ATP ke berbagai organel sel oleh mitokondria dg cara mitokondria secara terus menerus bergerak & menyentuh semua bagian dari selnya, termasuk nukleus (“mitochondrial dance”). Efek anosis, terhentinya sintesis ATP. Terjadi glikolisis anaerobik yg menghasilkan energy tanpa oksigen, sampai cadangan glikogen habis à meningkatkan asam laktat dlm sel, granul glikogen berkurang & menghilang dari sel. Meningkatnya konsentrasi asam laktat à DNA tergulung kuat & bergumpal dlm inti (piknotik) à sintesis mRNA terhenti. Kation & pompa air, suatu mesin enzim yg tertanam pd membran plasma & membran organel – organel bersaccus berhenti memompakan sodium, kalsium & air ke luar, àsodium, air terakumulasi dlm sel & organel, à sel membengkak. Karena mRNA (-), kompleks ribosom dipecah à ribosom tunggal, sintesis protein terhenti.
2.       Semua bahan kimia, zat tak berbahaya (glukosa atau garam), jika konsentrasinya cukup banyak → merusak keseimbangan osmotik → mencederai/ kematian sel, O2 tekanan tinggi bersifat toksik, racun, berpotensi toksik di lingkungan, obat terapeutik pd pasien yg rentan.
3.       Agen infeksius, virus, riketsia, bakteri, fungi, protozoa, cacing.
4.       Reaksi imunologi, meskipun imun berguna melindungi tubuh, tapi dapat menyebabkan jejas sel.
5.       Defek genetik, perubahan patologis yang mencolok/tak ketara, dan perubahan yg sering terjadi pd DNA.
6.       Ketidakseimbangan nutrisi, insufisiensi kalori-protein, defisiensi vitamin, dan nutrisi berlebih.
7.       Agen fisik, trauma, temperatur yang ekstrim, radiasi, syok elektrik, perubahan mendadak pada tekanan atmosfer.
8.       Penuan, proses penuaan sel (senescence) intrinsik menimbulkan perubahan kemampuan perbaikan dan replikasi sel & jaringan.
 Sistem intra sel tertentu terutama rentan terhadap jejas sel. Pemeliharaan integritas membran sel, respirasi aerobic dan produksi ATP, sintesis enzim dan protein berstruktur, dan preservasi integritas aparat genetik. Sistem-sistem ini terkait erat satu dengan yang lain sehingga jejas pada satu lokus membawa efek sekunder yang luas. Kensekuensi jejas sel bergantung kepada jenis, lama, dan kerasnya gen penyebab dan juga kepada jenis, status, dan kemampuan adaptasi sel yang terkena.Aspek biokimia yang penting sebagai perantara jejas dan kematian sel antara lain : Deplesi ATP karena dibutuhkan untuk proses yang penting seperti trasportasi pada membran, sintesis protein, dan pertukaran fosfolipid, kerusakan Mitokondria, hilangnya homeostasis kalsium, dan meningkatnya kalsium intrasel, radikal bebas berasal dari oksigen yang terbentuk pada banyak keadaan patologik dan menyebabkan efek yang merusak pada struktur dan fungsi sel, defek permeabilitas membran. Membran dapat dirusak langsung oleh toksin, agen fisik dan kimia, komponen komplemen litik, dan perforin, atau secara tidak langsung seperti yang diuraikan pada kejadian sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar